T |
anggal 1 Juli kemarin ketika saya menyaksikan berita
di sebuah setasiun televisi lokal Jawa Tengah, hati saya heran plus
terharu ketika manyaksikan seorang ibu tua menuturkan mengapa anaknya
tidak diterima di sebuah sekolah SLTA Negeri favorit di Semarang, “anak saya tidak diterima karena uang pangkal (baca: sumbangan untuk sekolah) kurang besar.”,
tuturnya. Padahal anak dari orang tua tersebut memiliki nilai rata-rata
kelulusan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya
yang diterima di sekolah tersebut. (Kok bisa ya? Ya iyalah.. ada uang
gitu lho…) Uniknya lagi hal yang sama tidak hanya terjadi pada orang tua
dan anaknya tersebut, hal yang sama juga dialami oleh anak-nak yang
memiliki prestasi tinggi namun secara keuangan mereka kurang mampu.
Akhirnya mereka harus memilih alternatif sekolah lain, yang belum tentu
cocok dengan keinginan dan mungkin kualitasnya belum tentu sama dengan
sekolah-sekolah negeri favorit yang ada.
Penggalan cerita dan sedikit uraian di atas tadi sanggat menarik untuk disimak lantaran mengandung dua alasan utama. Pertama,
cerita itu sangat “mengharukan” karena hanya dapat ditarik kesimpulan
bahwa betapa di negeri ini untuk sebuah bangku sekolah itu harus
“dibeli” dengan harga yang mahal, yang tentunya begitu berat dirasakan
oleh sebagian besar masyarakat.
Kedua, cerita yang sama, juga memberi
kita “rasa takjub” sebab ada kegigihan yang luar biasa dari para
orangtua untuk menyelamatkan masa depan anak mereka di sebuah tempat
bernama sekolah. Bagi orangtua, sekolah tampaknya masih dijadikan tempat
yang bisa mengubah nasib anak-anak mereka. Rasa takjub yang sama akan
kita saksikan jika kita berlibur di desa-desa pada saat liburan sekolah.
Ternyata di sana juga tidak sedikit orangtua yang disibukkan dengan
menjual sawah dan berbagai ternak untuk biaya sekolah anaknya.
Dengan penyelenggaraan pendidikan murah juga akan mudah mengontrol perilaku korupsi
yang marak terjadi pada berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam
sektor pendidikan itu sendiri; karena dana yang sedikit akan mudah
diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dan, dengan pendidikan murah
diskriminasi terhadap orang miskin untuk tidak boleh sekolah bisa
dihindarkan. Singkat kata, dengan penyelenggaraan pendidikan murah,
orang miskin tidak lagi dilarang untuk sekolah.
Sumber Bacaan:
http://www.jakartateachersclub.comhttp://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=38187&ik=3
http://forum.detik.com/showthread.php?t=2985
untuk download filenya: Klik Disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar